Tetap Bisa Kaya Sebagai Pekerja

“Jangan salah memahami isitilah kaya dengan berpenghasilan tinggi. Membeli dan memiliki sebanyak mungkin harta produktif merupakan salah satu cara menjadi kaya sebagai pekerja.” Atik Darmawati

PERTANYAAN menggelitik itu kerap kali menyambangi benak setiap orang. Benarkah  menjadi seorang karyawan tak memberi pilihan untuk bisa kaya? Jawabannya tentu tidak. Memang, sebagian besar orang beranggapan bahwa orang kaya adalah orang yang berpenghasilan tinggi. Tapi, apakah benar kaya sama artinya dengan berpenghasilan tinggi Safir Senduk dalam bukunya yang berjudul Siapa Bilang Jadi Karyawan Nggak Bisa Kaya, 5 Kiat Praktis Mengelola Gaji Agar Bisa Kaya, menepisnya.

Menurut Safir, menyamakan kaya dengan berpenghasilan tinggi merupakan sebuah kesalahpahaman. Dalam buku setebal 121 halaman itu, dia mengajak pembaca melepas kesalahpahaman itu. Berpenghasilan tinggi adalah mendapatkan uang masuk (cash flow) yang besar setiap bulan. Sedangkan, kaya adalah seberapa banyak kita bisa menyisihkan, menyimpan, dan menumpuk aset dari penghasilan yang diperoleh.

Kita tahu, menjadi karyawan berarti siap menerima penghasilan terbatas. Tapi, Safir menegaskan, Siapa pun bisa kaya, berapa pun penghasilannya. Karena, kemampuan kita mengumpulkan kekayaan tidak dilihat dari berapa besarnya penghasilan, melainkan dari bagaimana cara kita mengelola penghasilan itu.

Dengan bahasa yang renyah dan mudah dicerna, pria lulusan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) IBMI ini menuturkan lima cara mengatur pengeluaran supaya seorang karyawan bisa menyisihkan penghasilan untuk diinvestasikan secara tepat.

Pertama, membeli dan memiliki sebanyak mungkin harta produktif. Caranya, tiap kali menerima gaji, prioritaskan untuk membeli harta produktif sebelum membayar pengeluaran lain. Harta produktif adalah harta yang bisa memberi penghasilan pada kita, seperti produk investasi, bisnis, harta yang disewakan, dan barang  ciptaan. Safir membedakannya dengan harta konsumtif, yakni harta yang tidak memberi penghasilan kepada kita, semisal televisi atau radio.

Kedua, atur pengeluaran. Tiga hal harus diperhatikan, yakni bedakan antara keinginan dan kebutuhan, tentukan prioritas, dan ketahui dengan baik ketika mengeluarkan uang untuk setiap kebutuhan. Safir menyarankan agar kita mau bersikap keras dalam mengatur pengeluaran supaya tidak mengalami defisit.

Ketiga, hati-hati dengan utang. Kita harus bisa membedakan kapan boleh berutang dan kapan tidak. Kita bisa berutang untuk keperluan bisnis atau membeli barang-barang yang nilainya hampir pasti naik pada masa depan. Tentu, cicilan utang itu harus disesuaikan dengan penghasilan per bulan.

Keempat, sisihkan untuk pos-pos pengeluaran pada masa mendatang. Beberapa pos pengeluaran harus kita persiapkan dari sekarang, yaitu pendidikan anak, pensiun, properti, bisnis dan liburan, atau perjalanan ibadah. Dengan mengumpulkan sedikit demi sedikit, jumlah yang besar untuk pos-pos pengeluaran itu akan terasa ringan.

Kelima, miliki proteksi untuk menghadapi pelbagai risiko, seperti meninggal dunia. Safir menyodorkan tiga tips yang bisa dilakukan untuk mengantisipasi risiko itu, yaitu memiliki asuransi, memiliki dana cadangan minimal tiga bulan gaji, dan memiliki sumber penghasilan di luar gaji.  Nah, sulitkah menerapkan kelima kiat itu? Mulailah dengan tekad mau berkorban untuk keluar dari rasa nyaman yang selama ini dirasakan.

Sumber : http://www.infobanknews.com

Salam Sejahtera,

Ibnu AR Sulaksana

HP:08121130617 / 022 95200269

YM:i3nu.sulaksana@yahoo.co.id

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: